PENCARIAN

BERITA TERATAS

KOMENTAR

    POLING
    Bagaimana Menurut Anda Website Ini?

    Sangat Bagus
    Bagus
    Cukup
    Kurang

    Lihat Hasil Poling


    ARSIP PONDOK

      June 2017 (1)

      December 2016 (1)

      November 2016 (2)

      September 2016 (1)

      February 2016 (1)

      March 2014 (1)

      May 2013 (18)

      April 2013 (4)


    AGENDA


    Statuta

    معهد المبارك الاسلامي السلفيالمنقساني

    PONPES AL MUBAAROK MANGGISAN

    Alamat : Manggisan, Mojotengah, Wonosobo, Jawa Tengah

    Ilmfyyah Amaliyyah Syar?iyyah

    mojotengah wonosobo 56351 telp : (0286) 323659

     

    BAB I NAMA TEMPAT DAN WAKTU 

    Pasal 1

    Lembaga Pendidikan Islam ini bernama Pondok Pesantren Al Mubaarok di singkat menjadi PPM yang selanjutnya dalam bahasa Arab ditulis مَعْهَدُ الْمُبَارَكِ الِاسْلَامِي الْسَلَفِي

    Pasal 2

    Pondok Pesantren Al Mubaarok didirikan di Manggisan Mojotengah Wonosobo pada hari rabu tanggal 2 Romadlon 1428 H. bertepatan dengan tanggal 1 Januari 1998 M.

     

    BAB II A Q I D A H 

    Pasal 3

    Pondok Pesantren Al Mubaarok beraqidah Islam menurut faham ahlissunnah wal jama’ah ‘ala thoriqotissalafis sholichin. 

     
    BAB III TUJUAN DAN USAHA
     
    Pasal 4
     

    1.

    Pondok Pesantren Al Mubaarok bertujuan :Ikhtiar membentuk al-ulama ash-sholichin yang mandiri, kreatif, kritis dan peduli terhadap permasalahan-permasalahan sosial disekitarnya.

    2.

    Menegakkan kalimat-kalimat Alloh yang (‘ula wala yu’la alaih) unggul dan tak terungguli.

    3.

    Memelihara dan meningkatkan kualitas pendidikan, pengajaran, penyiaran dan pemahaman ajaran islam menurut faham sebagaimana dimaksud dalam Pasal (3).

    4.

    Memenuhi hak asasi manusia untuk dapat hidup sesuai dengan qodrat kemanusiannya sebagai hamba Alloh, serta untuk mempertinggi derajat kehidupan dan penghidupannya sebagai kholifah di muka bumi ini.

    Pasal 5 
    Untuk mencapai tujuan tersebut pada Pasal 4 Pondok Pesantren Al Mubaarok menyelenggarakan :

    1. Tarbiyah islamiyyah

    2. Pelatihan-pelatihan

    3. Pengabdian pada masyarakat

    4. Da’wah islamiyyah
     
    BAB IV
    PENYELENGGARAAN TARBIYYAH ISLAMIYYAH, PELATIHAN, PENGABDIAN PADA MASYARAKAT DAN DA’WAH ISLAM
     
    Pasal 6
    Pondok Pesantren Al Mubaarok menyelenggarakan tarbiyyah islamiyyah dengan mengajarkan berbagai disiplin ilmu menurut faham sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal (3).
    Pasal 7
    1. Kurikulum sebagai program pokok 
    2. Non Kurikulum sebagai program penunjang 
     
    Pasal 8

    1.

    Penetapan dan perubahan materi kurikulum ditetapkan oleh Al Muassis dan atau sidang MAHA (Majlis Ahlil Halli wal Aqdi).

    2.

    Penetapan program kurikulum sebagai program penunjang ditetapkan oleh Syaikhul Ma’had sebagai pengasuh atau oleh Dewan Pelaksana dan disahkan oleh Syaikhul Ma’had.

    3.

    Materi kurikulum dan non kurikulum yang ditetapkan harus sesuai dengan apa yang dimaksud dalam Pasal (3).

     
      Pasal 9

    1

    Aturan teknis dan ketertiban pelaksanaan tarbiyyah sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal (6) dan Pasal (7) dirumuskan oleh TIEM yang dibentuk oleh rapat UNSUR PELAKSANA.

    2.

    Hasil rumusan TIEM sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) Pasal ini bisa berlaku setelah mendapatkan pengesahan Syakhul Ma’had.

      PELATIHAN-PELATIHAN

    Pasal 10

    1.

    Pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan Pondok Pesantren Al Mubaarok merupakan kegiatan dalam rangka upaya memperkaya keilmuan dan pengalaman santri, sebagai bekal pengabdian di masyarakat.

    2.

    Setiap pelatihan yang diselenggarakan oleh atau di Pondok Pesantren Al Mubaarok bisa dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Syaikhul Ma’had.

    Pasal 11

    Penentuan waktu dan ruang yang digunakan untuk pelatihan-pelatihan sebagaimana dijelaskan dalam pasal 10 ayat (1) dan (2) hendaknya dipertimbangkan dengan cermat, agar antara pelaksanaan pelatihan dan kegiatan tarbiyyah serta ubudiyyah di Pondok Pesantren Al Mubaarok dapat sama-sama berjalan dengan nyaman dan hidmat.
     
    PENGABDIAN PADA MASYARAKAT DAN DA’WAH 

        Pasal 12.    

    1.

    Pengabdian pada masyarakat yang diselenggarakan Pondok Pesantren Al Mubaarok merupakan kegiatan pemanfaatan ilmu dalam upaya meningkatkan kemajuan masyarakat dan penyebaran ilmu sebagai pelaksanaan da’wah islamiyyah.

    2.

    Bentuk, materi, aturan teknis dan ketertiban pengabdian dan da’wah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini dirumuskan oleh TIEM yang dibentuk oleh rapat DEWAN PELAKSANA dan hasilnya disahkan oleh Syaikhil Ma’had.

    BAB V POLA ORGANISASI PPM

    Pasal 13

    Pola organisasi PPM Manggisan Mojotengah Wonosobo terdiri atas :

    a. MAJLIS AHLIL HALLI WAL AQDI (MAHA).

    b. SYAIKHUL MA’HAD adalah Pengasuh PPM

    c. DEWAN PELAKSANA adalah pengurus harian PPM yang terdiri atas :

     • MUFATTISY ‘AM

     • PARA MUFATTISY DAN LURAH PONDOK

     • BIDANG-BIDANG

     • SUB BIDANG

     • KOMISARIAT COMPLEKS

     • KOMISARIAT KAMAR

    BAB VI KEDUDUKAN, TUGAS POKOK, FUNGSI DAN SUSUNAN ORGANISASI MAJLIS AHLIL HALLI WAL AQDI (MAHA)

    Pasal 14

    1.

    MAHA berkedudukan sebagai pendamping Pengasuh dan merupakan badan normatik tertinggi PPM.

    2.

    MAHA mempunyai tugas pokok dan wewenang menetapkan haluan, norma, materi kurikulum dan setandar tarbiyyah serta mendampingi Pengasuh dalam memecahkan persoalan-persoalan strategis PPM.

    3.

    MAHA menetapkan pedoman–pedoman kepribadian PPM.

    Pasal 15

    1.

    Anggota MAHA terdiri atas Syaikhul Ma’had, beberapa orang dari ahlil bait dan bila dipandang perlu di tambah sesepuh. Adapun jumlah keseluruhan anggota disesuaikan dengan kebutuhan.

    2.

    Ahlul bait yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini adalah keluarga Muassis PPM yang ditetapkan menjadi anggota MAHA oleh Syaukhul Ma’had setelah mempertimbangkan aspek kemashlahatan, keilmuan dan aspek-aspek yang lain.

    3.

    Sesepuh yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini adalah tokoh masyarakat baik ulama’ maupun intelektual yang mempunyai ketulusan dan kepedulian terhadap perkembangan dan kemajuan PPM yang ditetapkan menjadi anggota MAHA oleh Syaikhul Ma’had atas usulan atau persetujuan ahlil bait.

    Pasal 16

    MAHA diketuai oleh Syaikhul Ma’had dan dibantu oleh seorang sekretaris yang ditetapkan oleh Syaikhul Ma’had atas persetujuan anggota.

    PERSIDANGAN MAHA

    Pasal 17

    1.

    MAHA bersidang sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun selain sidang yang diadakan untuk membahas persoalan-persoalan setrategis waqi’iyyah.

    2.

    Sidang MAHA dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya separuh lebih satu dari jumlah anggota.

    3.

    Apabila qorum sebagaimana pada ayat (2) Pasal ini tidak terpenuhi, maka sidang ditunda selama 60 menit dan setelah itu sidang bisa dilaksanakan dengan tanpa mempertimbangkan jumlah anggota yang hadir, atau kalau memang dianggap perlu dan tidak menyebabkan bertele-tele, Ketua MAHA diberi kewewenangan untuk melakukan penjadwalan ulang.

    4.

    MAHA mengambil keputusan atas dasar musyawarah sepakat dan bilamana tidak tercapai mufakat, keputusan ditetapkan dengan suara terbanyak dari anggota yang hadir.

    KODE ETIK MAHA

    Pasal 18

    Setiap anggota MAHA berkewajiban :

    1.

    Senantiasa berupaya keras mencurahkan segala potensi yang dimiliki untuk kelestarian, kemajuan dan keberhasilan PPM.

    2.

    Menciptakan dan melestarikan kekompakan, kerukunan, keguyuban, keharmonisan dan saling hormat-menghormati sesama anggota MAHA.

    3.

    Meningkatkan kualitas komunikasi, koordinasi dan silaturrohim antar sesama anggota MAHA.

    4.

    Mengutamakan kepentingan-kepentingan MAHA serta mengamankan hal-hal yang menjadi rahasia MAHA dan PPM.

    5.

    Meningkatkan frekuensi komunikasi, koordinasi dan silaturrohim antar sesama anggota MAHA.

    6.

    Mengutamakan kepentingan-kepentingan MAHA serta mengamankan hal-hal yang menjadi rahasia MAHA dan PPM.

     

    PENGASUH PESANTREN

    Pasal 19

    1.

    Pondok Pesantren Al Mubaarok dipimpin oleh Syaikhul Ma’had

    2.

    Syaikhul Ma’had mempunya fungsi, tugas dan wewenang sebagai berikut :

    a.

    Penanggung-jawab umum atas penyelenggaran tarbiyyah, pelatihan-pelatihan, pengabdian pada masyarakat, da’wah islamiyyah dan ubudiyyah santri.

    b.

    Penyelenggara dan pimpinan setiap persidang Ahlil Halli wal Aqdi (MAHA).

    c.

    Menetapkan kebijaksanaan umum sesuai dengan STATUTA serta melakukan pembinaan dan pengurusan kepada Dewan Pelaksana dalam melaksanakan wewenang dan tugasnya.

    d.

    Menetapkan skorsing terhadap anggota Dewan Pelaksana apabila nyata-nyata melanggar STATUTA dan dipandang dapat membahayakan eksistensi PPM.

     

    DEWAN PELAKSANA

    Pasal 20

    1.

    Dewan Pelaksana adalah pengurus PPM yang berkedudukan sebagai pembantu Syaikhul Ma’had (Pengasuh) dan diberi amanat untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu.

    2.

    Tugas-tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini adalah melaksanakan kebijakan-kebijakan strategis dan program-program PPM.

    Pasal 21

    Organisasi DEWAN PELAKSANA sebagaimana telah dijelaskan dalam Pasal 13 ayat (1) huruf (c) terdiri atas :

    • Mufattisy ‘Am

    • Para Mufattisy dan Lurah Pondok

    • Bidang-Bidang

    • Sub Bidang

    • Komisariat Compleks

    • Komisariat Kamar

     

    MUFATTISY ‘AM

    Pasal 22

    1.

    Mufattisy ‘Am adalah unsur pengurus PPM yang mempunyai kedudukan sebagai pemegang dan penanggung jawab amanat atas pelaksanaan kebijakan-kebijakan Syaikhul Ma’had dan program-program PPM.

    2.

    Mufattisy ‘Am dalam melaksanakan tugas-tugasnya bertanggung jawab langsung pada Syaikhul Ma’had.

    3.

    Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini Mufattisy ‘Am mempunyai fungsi :

    a.

    Pimpinan pelaksana kebijakan-kebijakan dan program-program PPM serta pembimbing seluruh Perangkat Kepengurusan agar berdaya guna dan berhasil guna dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

    b.

    Pembimbing dan pendamping Perangkat Kepengurusan dibawahnya dalam merumuskan teknis pelaksanaan kebijakan-kebijakan dan program-program PPM.

    c.

    Pengkoordinasi tugas-tugas Perangkat Kepengurusan.

    d.

    Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Syaikhul Ma’had sesuai dengan fungsinya.

    PARA MUFATTISY DAN LURAH PONDOK

    Pasal 23

    1. 

    Para Mufattisy dan Lurah Pondok adalah Perangkat Kepengurusan yang posisinya satu tingkat dibawah Mufattisy ‘Am dan bertanggung jawab pada Syaikhul Ma’had melalui Mufattisy ‘Am.

    2.

    Para Mufattisy terdiri atas :

     

    a.

    Mufattisy Awwal, bertanggung jawab tentang Administrasi Umum dan Keuangan.

    b.

    Mufattisy Tsani, bertanggung jawab tentang Pelaksanaan Tarbiyyah dan Pembinaan Santri.

    c.

    Mufattisy Tsalits bertanggung jawab tentang Pengembangan PPM, Kealumnian dan Pengabdian pada Masyarakat.

    d.

    Mufattisy Robi’ , bertanggung jawab tentang Pemberdayaan Khudama’.

     

    3.

    Lurah Pondok sebagai Perangkat Kepengurusan yang sejajar dengan para Mufattisy, ya’ni satu tingkat dibawah Mufattisy ‘Am bertanggung jawab tentang Pengelolaan, Pengawasan dan Ketertiban Asrama dan Santri.

    PELAKSANAAN TUGAS PARA MUFATTISY DAN LURAH PONDOK MUFATTISY AWWAL

    Pasal 24

    1.

    Mufattisy Awal dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf (a) mempunyai fungsi :

    a. 

    Pimpinan pelaksanaan kebijakan-kebijakan dan program PPM dibidang Administrasi Umum dan Keuangan.

    b.

    Penyelenggara dan Pengelola Administrasi dan Keuangan PPM.

    c.

    Perumusan teknis pelaksanaan kebijakan tentang Administrasi Umum dan Keuangan PPM.

    d.

    Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Syaikhul Ma’had dan atau Mufattisy ‘Am sesuai dengan tugas dan fungsinya.

    2.

    Organisasi bidang Administrasi Umum dan Keuangan terdiri atas :

    a.

    Mufattisy Awal

    b.

    Bidang terdiri dari :

    b.1.

    Bidang Administrasi Umum .

    b.2.

    Bidang Keuangan.

    MUFATTISY TSANI

    Pasal 25

    1.

    Mufattisy Tsani dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf (b) mempunyai fungsi :

    a.

    Pimpinan pelaksanaan kebijakan-kebijakan dan program-program PPM dibidang Tarbiyyah dan Pembinaan Santri.

    b.

    Perumusan hal ikhwal yang berkaitan dengan teknis pelaksanaan kebijakan tentang Tarbiyyah dan Pembinaan Santri.

    c.

    Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Syaikhul Ma’had dan atau Mufattisy ‘Am yang sesuai dengan tugas dan fungsinya.

    2.

    Organisasi bidang Tarbiyyah dan Pembinaan Santri terdiri atas :

    a.

    Mufattisy Tsani

    b.

    Bidang terdiri dari :

    b.1.

    Bidang Qori’in , Pengajaran dan Ubudiyyah (QPU).

    b.2.

    Bidang Pembinaan Santri, Bachtsul Masail dan Perpustakaan.

    MUFATTISY TSALITS

    Pasal 26

    1.

    Mufattisy Tsalits dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf (c) mempunyai fungsi :

    a.

    Pimpinan pelaksanaan kebijakan-kebijakan dan program-program PPM dibidang Pengembangan Pesantren dan Kealumnian dan Pengabdian pada Masyarakat.

    b.

    Perumusan teknis pelaksanaan kebijakan tentang Pengembangan Pesantren, Kealumnian dan Pengabdian pada Masyarakat.

    c.

    Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Syaikhul Ma’had dan atau Mufattisy ‘Am sesuai dengan tugas dan fungsinya.

    2.

    Organisasi bidang Pengembangan Pesantren, Kealumnian dan Pengabdian pada Masyarakat terdiri atas :

    a.

    Mufattisy Tsalits

    b.

    Bidang terdiri dari :

    b.1.

    Bidang Pengembangan Pesantren dan Pengabdian pada masyarakat.

    b.2.

     Bidang Kealumnian dan Humas.

    MUFATTISY ROBI’

    Pasal 27

    1.

    Mufattisy Robi’ dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf (d) mempunyai fungsi :

    a.

    Pimpinan pelaksanaan kebijakan-kebijakan dan program-program PPM dibidang Pemberdayaan Khudama.

    b.

    Perumusan teknis pelaksanaan kebijakan tentang Pemberdayaan Khudama.

    c.

    Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Syaikhul Ma’had dan atau Mufattisy ‘Am.

    2.

    Organisasi bidang Pemberdayaan Khudama terdiri atas :

    a.

    Mufattisy Robi’

    b.

    Bidang terdiri dari :

    b.1.

    Bidang Perkoperasian.

    b.2.

    Bidang Perikanan.

    b.3.

    Bidang Pertanian

    b.4.

    Bidabg Kesejahteraan Khudama

     

    LURAH PONDOK

    Pasal 28

    1.

    Lurah Pondok sebagaimana disebutkan dalam Pasal (23) ayat (3) adalah Perangkat Kepengurusan PPM yang bertanggung jawab tentang pelaksanaan kebijakan dan program PPM dibidang Pengelolaan dan Pengawasan Asrama dan Santri.

    2.

    Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, Lurah Pondok berfungsi sebagai :

    a.

    Pimpinan kebijakan-kebijakan dan program PPM dibidang Pengelolaan dan Pengawasan Asrama dan Santri

    b.

    Perumusan aturan dan teknis pelaksanaan Pengelolaan dan Pengawasan Asrama dan Santri.

    c.

    Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Syaikhul Ma’had dan atau Mufattisy ‘Am sesuai dengan tugas dan fungsinya.

    3.

    Organisasi Pengelolaan dan Pengawasan Asrama Putra dan Santri terdiri atas :

    a.

    Lurah Pondok dan Wakil Lurah

    b.

    Sekretaris dan Bendahara

    c.

    Bidang-bidang yang terdiri atas :

    c.1.

    Ketentraman dan Ketertiban Santri (KKS)

    c.2.

    Kesehatan, Kebersihan dan Keindahan (K3)

    c.3.

    Penerangan Listrik dan Pengeras Suara

    c.4.

    Pemeliharaan Sarana dan Prasarana

    c.5.

    Tabungan Santri

    Pasal 29

    1.

    Komosaris komplek adalah Perangkat Kepengurusan PPM yang berada satu tingkat dibawah Lurah Pondok dan membawahi beberapa Komosaris Kamar sebagai binaannya.

    2.

    Jumlah Komisaris Kamar yang menjadi binaan Komosaris Kompleks sebanyak kamar-kamar yang berada di masing-masing kompleks yang bersangkutan.

    3.

    Komosaris Komplek betanggung jawab kepada Mufattisy ‘Am melalui Lurah Pondok.

    4.

    Dalam menjalankan tugasnya Komisaris Komplpeks berfungsi :

    a.

    Pengelola Pembinaan dan Pemberdayaan Komosaris Kamar.

    b.

    Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Mufattisy ‘Am dan atau Lurah Pondok yang sesuai dengan tugas dan fungsinya.

    5.

    Komisaris Kompleks sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini dipimpin oleh Kepala Komplek dan Wakil Kepala Komplek serta dibantu oleh dua orang sekretaris.

    Pasal 30

    1.

    Komisaris Kamar adalah merupakan ujung tombak Perangkat Kepengurusan PPM yang bertanggung jawab kepada Lurah Pondok melalui kepala Kompleks.

    2.

    Komisaris Kamar dalam menjalankan tugas berfungsi :

    a.

    Pengelolaan dan pelaksanaan kebijakan-kebijakan dan program PPM yang berkenaan dengan kamar dan santri,

    b.

    Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Lurah Pondok dan atau Kepala Kompleks yang sesuai dengan tugas dan fungsinya.

    3.

    Komisaris Kamar dipimpin oleh Kepala Kamar dan Wakil Kepala Kamar serta dibantu oleh seorang sekretaris dan seorang bendahara.

     

    BAB VII MEKANISME PENGANGKATAN DEWAN PELAKSANA, DAN MASA HIDMAHNYA

    Pasal 31

    1.

    Didalam Struktur Kepengurusan Pondok Pesantren Al Mubaarok terdapat enam pos jabatan pokok yaitu ; Mufattisy ‘Am, Mufattisy Awal, Mufattisy Tsani, Mufattisy Tsalits, Mufattisy Robi’ dan lurah Pondok.

    2.

    Proses pengangkatan Pengurus posisi pokok yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini adalah sebagai berikut :

    a.

    Perekrutan enam santri senior untuk ditetapkan sebagai calon pemangku jabatan pokok melalui pemilihan umum santri.

    b.

    Penempatan enam calon terpilih sesuai dengan potensinya masing-masing ditetapkan melalui Surat Keputusan Syakhul Ma’had.

    Pasal 32

    Kreteria calon pemangku enam jabatan pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal (31) ayat (1) adalah sebagai berikut :

    1.

    Sudah pernah menjadi Pengurus PPM.

    2.

    Sudah tamat belajar di PPM dan sudah mengajar minimal di Martabah Khomisah.

    3.

    mempunyai semangat berhidmah untuk kemajuan PPM.

    Pasal 33

    Enam (6) santri senior yang terpilih sebagai calon pemangku jabatan pokok sebagaimana dijelaskan dalam Pasal (31) ayat (1) setelah ditempatkan dalam posisi jabatan yang diberikan sebagaimana disebutkan dalam Pasal (31) ayat (2) huruf (b) adalah sebagai FORMATUR yang bertugas mengisi kelengkapan kepengurusan melalui rapat FORMATUR.

    Pasal 34

    Formatur sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal (33) selambat-lambatnya 3 (tiga) hari harus sudah selesai menyusun kelengkapan kepengurusan Pasal 35 Masa khidmah kepengurusan PPM selama 2 (dua ) tahun terhitung dari tanggal penetapan.

    BAB VIII PERMUSYAWARATAN

    Pasal 36

    Permusyawaratan Pengurus PPM terdiri dari :

    a.

    Musyawarah kerja yang dilaksanakan paling lambat 10 hari setelah setruktur kepengurusan tersusun lengkap dan disahkan oleh Syaikhul Ma’had.

    b.

    Musyawarah rutin bulanan yang dilaksanakan untuk :

    b.1.

    Memonitor kerja-kerja Pengurus dalam setiap bulannya.

    b.2.

    Membahas hal-hal penting yang muncul disetiap bulannya.

    b.3.

    Laporan keuangan

    c.

    Musyawarah khusus para Mufattisy dan Lurah Pondok yang diadakan setiap kali ada masalah-masalah mendadak yang setrategis dan membutuhkan penanganan segera.

    Pasal 37

    1.

    Musyawarah-musyawarah sebagaimana dimaksud dalam Pasal (36) ayat (1) huruf (a,b dan c) dianggap sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota.

    2.

    Apabila qorum sebagaimana pada ayat (1) Pasal ini tidak terpenuhi, maka musyawarah ditunda 30 menit dan setelah itu masyawarah dapat dikalaksanakan dengan tanpa memperhatikan jumlah anggota yang hadir.

    Pasal 38

    Keputusan diambil atas dasar musyawarah sepakat dan bila tidak tercapai mufakat, keputusan diambil dengan suara terbanyak. Pasal 39 Setiap hasil keputusan masing-masing musyawarah dapat diberlakukan setelah mendapat pengesahan dari Syaukhul Ma’had.

     

    BAB IX PEMILIHAN UMUM SANTRI (PUS)

    Pasal 40

    1.

    PUS diselenggaraka setiap akhir masa khidmah kepengurusan PPM untuk memilih enam calon pemegang jabatan pokok.

    2.

    PUS diikuti oleh seluruh santri dan dilaksanakan dengan bebas dan rahasia.

    3.

    Rancangan aturan teknis pelaksanaan pemilihan disusun oleh Mufattisy ‘Am dan Mufattisy Awal, lalu dibahas dalam musyawarah rutin bulanan.

    BAB X KEUANGAN DAN KEKAYAAN

    Pasal 41

    Keuangan dan kekayaan PPM diperoleh dari :

    1.

    Iuran santri.

    2.

    Infaq atau sumbangan yang halal dan tidak mengikat.

    3.

    Peralihan hak untuk dan atas nama PPM.

    4.

    Usaha-usaha lain yang dilakukan oleh PPM.

    BAB XI SANTRI DAN ALUMNI

    Pasal 42

    1.

    Santri PPM adalah peserta didik yang terdaftar dan tidak kehilangan haknya sebagai santri.

    2.

    Setiap santri PPM berhak :

    a.

    Memperoleh pendidikan dan pengajaran serta pelayanan hal-hal yang menunjang kelancaran proses belajar.

    b.

    Ikut serta dalam kegiatan santri PPM untuk meningkatkan kesejahteraan dan membina kemampuan yang sesuai dengan bakat dan minat masing-masing.

    c.

    Menggunakan prasarana dan sarana PPM secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma yang berlaku di PPM.

    3.

    Setiap santri PPM berkewajiban :

    a.

    Berperilaku sesuai dengan nilai ajaran ahlissunnah wal jama’ah dan mematuhi semua ketentuan-ketentuan yang berlaku di PPM.

    b.

     Senantiasa ta’dhim dan tauqir kepada Masyayih dan Ahli baitnya serta para Ustadz (Qori’in).

    c.

    Membayar biaya penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku di PPM.

    d.

    Menjaga wibawa dan nama baik almamater baik didalam maupun diluar lingkungan PPM.

    Pasal 43

    1.

    Alumni yang dimaksud dalam Bab XI ini adalah :

    a.

    Mereka yang telah menyelesaikan pendidikan di PPM dalam Program dan jenjang pendidikan yang ada.

    b.

    Mereka yang telah menyelesaikan minimal satu bidang mata pelajaran baik kurikulum maupun non kurikulum.

    2.

    Setiap alumni sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf (a) dan (b) Pasal ini dianjurkan dengan sangat untuk :

    a.

    Mengikuti pengajian rutin muqiminan yang diselenggarakan di PPM sebagai upaya mudawamatult ta’allum.

    b.

    Meningkatkan ‘alaqoh bathiniyyah dengan Masyayih dan ahlil bait maadaama fii ghoiril ma’shiyyah.

    3.

    Alumni PPM dapat membentuk organisasi atau forum alumni yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kekompakan dalam membina umat serta menjalin komunikasi antar alumni PPM dalam menunjang pencapaian tujuan PPM.

    BAB XII PENGHARGAAN DAN SANGSI

    Pasal 44

    1.

    PPM dapat memberikan penghargaan kepada mereka yang berprestasi dan berdedikasi tinggi baik dalam bidang tarbiyyah maupun lainnya yang mashlahah.

    2.

    Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini ditetapkan dengan keputusan Syaikhul Ma’had.

    BAB XIII LAMBANG DAN BENDERA PPM

    Pasal 45

    Bentuk lambang Pondok Pesantren Al Mubaarok Manggisan secara utuh adalah berbentuk bulat oval. Pasal 46 Isi dan Ma’na Lambang PPM adalah :

    1.

    Tulisan Pondok Pesantren Al Mubaarok ditulis melengkung membentuk pintu masjid ala Timur Tengah , melambang-kan keagungan dan kewibawaan.

    2.

    Tulisan Ilmiyyah Amaliyyah Syariyyah dibingkai dengan pita yang ditata menjadi cekung dan menyangga seluruh komponen lambang , hal ini dimaksud sebagai tafa’ul agar para santri dalam sikap hidupnya senantiasa berorientasi ilmiyyah amaliyyah dan syariyyah serta mampu menjadi penyangga perjuangan umat dalam upaya meraih predikat khoiro ummah.

    3.

    Wadah mangsi terbuka yang bagian bawahnya ada tulisan Arab yang berbunyi Ma’hadul Mubaarok Al Islami As Salafi Al Manqisani, melambangkan almamater tempat kegiatan ta’lim wat ta’allum.

    4.

    Al Qur’an melambangkan sumber ilmu.

    5.

    Dua sayap berdiri tegak yang pangkalnya menyangga Al Qur’an, melambangkan keteguhan sikap dalam menjunjung tinggi prinsip-prinsip ajaran Al Qur’an.

    6.

    Tiga helai daun muda menjulang keatas, melambangkan santri yang mempunyai himmah ‘aliyyah.

    7.

    Pena berdiri tegak lurus, melambangkan proses ta’lim wat ta’allum yang istiqomah. 8. Tulisan PPM yang teletak dibagian atas wadah mangsi merupakan singkatan dari Pondok Pesantren Al Mubaarok.

    Pasal 47

    1.

    Bendera PPM yang berbentuk segi empat panjang yang lebarnya dua pertiga panjangnya.

    2.

    Warna dasarnya bendera PPM hijau muda cerah.

    3.

    Di tengah-tengah bendera terpampang lambang PPM.

    4.

    Di sebelah kiri lambang dibubuhi tulisan PP AL MUBAAROK MANGGISAN di bawah.

    Pasal 48

    Pembuatan Lambang PPM harus memperhatikan ukuran-ukuran dan bentuk ovalnya agar terlihat bagus dan rapi.

    BAB XIV KETENTUAN PERUBAHAN

    Pasal 49

    1.

    Segala sesuatu yang termaktub dalam Pasal (1) sampai dengan (19) hanya bisa dirubah oleh sidang MAHA yang diadakan khusus untuk itu.

    2.

    Segala sesuatu yang termaktub dalam Pasal (20) sampai dengan (48) hanya bisa dirubah oleh Musyawarah Pengurus lengkap yang diadakan khusus untuk membahas hal itu atas seizin atau perintah Syikhul Ma’had.

    3.

    Untuk menghindari kelatahan dalam melakukan perubahan, maka baik sidang MAHA ataupun Musyawarah Pengurus lengkap ketika hendak melakukan perubahan harus mempertimbangkan aspek-aspek kemanfaatan, keberkahan dan aspek moral yang tersirat dalam bait dibawah ini : مستوجب ثنائي الجميلا | وهو بسبق حائز تفضيلا

     

    BAB XV KETENTUAN KHOTIMAH

    Pasal 50

    Hal-hal yang belum diatur dalam STATUTA ini jika merupakan hal yang setrategis, maka diatur dalam Surat Keputusan (SK) Syaikhul Ma’had, sedangkan yang bersifat teknis diatur melalui Musyawarah Pengurus dan disahkan oleh Syaikhul Ma’had.


    Asmaul Husna


    KALENDER


    MINI CHAT