PENCARIAN

BERITA TERATAS

KOMENTAR

    POLING
    Bagaimana Menurut Anda Website Ini?

    Sangat Bagus
    Bagus
    Cukup
    Kurang

    Lihat Hasil Poling


    ARSIP PONDOK

      June 2017 (1)

      December 2016 (1)

      November 2016 (2)

      September 2016 (1)

      February 2016 (1)

      March 2014 (1)

      May 2013 (18)

      April 2013 (4)


    AGENDA


    Sejarah

      SEJARAH PONDOK PESANTREN

    AL-MUBAAROK MANGGISAN

    I. IDENTITAS
    1)    Nama : Pondok Pesantren “Al-Mubaarok Manggisan”
    2)    Alamat : Manggisan, Mudal, Mojotengah, Wonosobo
    3)    No.Telp. : (0286) 323 659
    4)    Website : www.ponpesmanggisan.com
    5)    E_ mail : ponpesmanggisan@gmail.com
    6)    Berdiri Pada : 31 Desember 1997, tepat tanggal
      01 Romadlon 1418 H
      Hari Rabu kliwon.
    7)    Pendiri : KH. Nur Hidayatulloh


    II.
     
    MUNCULNYA GAGASAN PENDIRIAN PONDOK PESANTREN AL-MUBAAROK MANGGISAN

    Dalam benak KH. Nur Hidayatulloh, pada awalnya tidak terbersit untuk mendirikan sebuah lembaga tafaqquh fiddin yang bernama Pondok Pesantren. saat masih belajar dipesantren_pun yang menjadi target utamanya adalah mencari ridlo Alloh SWT,  menghilangkan kebodohan dan meraih ulumiddin sebanyak-banyaknya yang berkah, manfaat dan muntafabih. Setelah selesai belajar, atas petunjuk dan restu gurunya. Pada hari senin tanggal 08 Februari 1993 / 17 Sya’ban 1413 H di Pesantrien ia mempersunting Ny.Hj. Nur Farida putrid KH. Ibrohim Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotuttholibin Jawar, Mojotengah, Wonosobo. Atas kesepakatan keluarga dan seidzin gurunya, KH. Nur Hidayatulloh diberi amanat untuk mengasuh dan mengampu Pondok Pesantren peninggalan KH. Ibrohim itu sampai adik iparnya yang bernama K. Nur Yasin siap menggantikan posisinya. Amanah itu dijalankan dengan baik oleh KH. Nur Hidayatulloh mulai awal maret 1993 sampai dengan akhir Desember 1997 (empat tahun lebih sepuluh bulan), dan setelah itu lalu tongkat kepemimpinannya diserahkan kepada K. Nur Yasin.

    Kira-kira dua tahun sebelum selesainya tugas mengasuh Pondok Pesantren peninggalan mertuanya selesai, KH. Nur Hidayatulloh mendapatkan isyararat dari gurunya yakni KH. Abdurrohman Ch. Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang, agar setelah selesai  menjalankan tugasnya, mau mendirikan Pondok Pesantren sendiri di tempat lain. Isyarat seperti ini disampaikan oleh gurunya tidak hanya satu kali. Bahkan yang terahir yaitu tanggal 04 mei 1996 secara jelas beliau dawuh
    “Dayat !... ben supoyo luwih biso berkembang kowe besuk ora usah manggon nang jawar, naliho seko jawar lan gaweho nggon ngaji dewe”.

    Atas dasari isyarat dan dawuh tersebut, lalu KH. Nur Hidayatulloh mengkomunikasikannya dengan istri dan ibu mertuanya (Ny.Hj. Nur Azizah Ibrohim). Ketika itu terjadi dinamika dan tarik ulur, karena jauh sebelum itu KH. Nur Huda Djazuli Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri sebagai guru dari Ny. Hj. Nur Farida pernah berpesan kepada KH. Ibrohim, agar Nur Farida tidak meninggalkan jawar yakni harus hidup dilingkungan jawar untuk memperkuat eksistensi Pondok Pesantren Roudlotuttholibin Jawar. Hal ini kemudian menimbulkan kegalauan dalam hati Ny. Hj. Nur Farida. Apakah ikut saran dan dawuh gurunya sendiri atau ikut dawuh guru suaminya.

    Untuk mengatasi hal tersebut, KH. Nur Hidayatulloh sowan kepada KH. Abdurrohman Ch. untuk memohon pencerahan dan arahan dari beliau. Sebagai guru yang bijak KH. Abdurrohman Ch. memberikan respon yang melegakan dengan mengatakan
    “ Yen ngono aku mengko tak mator marang Yai Dah” (nama panggilan untuk KH. Nur Huda Djazuli).

    Selang beberapa waktu, KH. Abdurrohman Ch.
    nimbali KH. Nur Hidayatulloh untuk menyampaikan kabar bahwa beliau sudah bertemu dengan KH. Nur Huda Djazuli membicarakan tentang masalah seperti di sebutkan di atas. Yai Dur (nama panggilan KH. Abdurrohman Ch.) ngendiko”Dayat!... aku wis ketemu Yai Dah, ngrembug masalah mu, lan Yai Dah wis marengaken kowe ngaleh seko Jawar, ngawe nggon ngaji dewe. Kowe karo bojo_mu di timbale Yai Dah, ndang sowan”.

    KH. Nur Hidayatulloh dan istripun
    sowan kepada Yai Dah di Ploso, Mojo, Kediri. Yai Dah Ngendiko “Mas Dayat, Mba’ Ida !... aku wis ketemu Yai Dur ngrembuk masalahe awakmu, lan aku wis mathuk yen awakmu keloron metu seko Jawar nggawe pondok dewe. Gaweho pondok sek apik, umah yo sek apik, nek iso, yen urung iso yo sak isane disik.”.

    Sampai disini KH. Nur Hidayatulloh dan istri merasa lega dan plong hatinya karena semuanya sudah clear.  Keluarga pun sudah menyetujuinya. Hanya saja Ibu Mertua (Ny.Hj. Nur Azizah Ibrohim)
    ngendiko, “ Yen metu seko Jawar yo kono, wong guru kabeh wis podo ridlo, mung aku njaluk ojo adoh-adoh seko Jawar, paling adoh limang kilo, ben tasih biso karo nguat-nguati Jawar.


    III.  
    PROSES PENCARIAN DAN PEMBEBASAN TANAH
     
    Dalam rangka mencari lokasi untuk tempat pendidikan Pondok Pesantren, ada beberapa tempat yang sempat di survey oleh KH. Nur Hidayatulloh. Diantaranya adalah ; sebidang tangah di Garung, sebidang sawah di Penampelan, di Klesman, di Krasak, di Andongsili, di Kalianget, di Kejiwan dan di Manggisan. Dari semua lokasi yang di Survey itu , setelah memper timbangkan berbagai hal, maka di pilihlah lokasi Sawah di Manggisan milik H.R. Yusuf Jambon Magelang.

    Sebelum melakukan transaksi, KH. Nur Hidayatulloh sowan ke gurunya untuk menanyakan apakah sawah itu layak untuk didirikan Pondok Pesantren. disamping itu pula untuk memohon restu dan arahannya. Restu dan arahan dari gurunya pun didapatinya. Sang Guru (KH. Abdurrohman Ch) memandang sawah itu layak untuk dijadikan tempat pendidikan yakni Pondok Pesantren, dan beliau memberikan arahan agar  sebelum melakukan transaksi, terlebih dahulu melakukan mujahadah dan berdo’a kepada Alloh SWT, agar segala sesuatunya diberi kemudahan dan keberkahan. Atas perintah gurunya tersebut, KH. Nur Hidayatulloh pun lalu melakukan mujahadah selama beberapa hari.

    Mujahadah telah dilakukan dan akhirnya cukup, lalu KH. Nur Hidayatulloh mengutus Bp. Abdul Aziz Ngebrak Kalibeber, Mojotengah adik ipar dari pemilik sawah, untuk melobi. Lobi yang dimaksud disini adalah melobi Bp. H.R. Yusuf agar ia mau tukar guling sawah miliknya yang berlokasi di manggisan dengan sawah milik Ny.Hj. Nur Farida yang berlokasi diantara desa Jawar dan Kalibeber. Pada tanggal 25 Juni 1996 Bp. Abdul Aziz barangkat ke magelang untuk sowan H.R. Yusuf  membahas hal seperti tersebut di atas.

    Dengan senang hati, pak Abdul Aziz menerima amanat itu. Pada hari sabtu tanggal 25 Juni 1996 ia berangkat ke magelang untuk bertemu  pak Yusuf. Setelah sholat ashar, pak Abdul Aziz menemui Pak Yusuf, dan menyampaikan apa yang menjadi amanat KH. Nur Hidayatulloh, yaitu masalah tukar guling tanah sawah. Pak yusuf merespon positif dengan menucapkan
    “yo… yo… he eh… he eh… he eh… mengkoaku tak ngomong bocah-bocah (anak-anaknya. Red).

    Berita mengejutkan, bahwa hari berikutnya, yakni hari Ahad wage jam 06.30 tanggal 26 Juni 1996 pak Yusuf di panggil oleh  Alloh SWT. Berita ini sangat mengejutkan  KH. Nur Hidayatulloh dan agak membuatnya cemas, karena persoalan tukar guling tanah sawah belum clear 100%. KH. Nur Hidayatulloh datang ke magelang untuk ta’ziyyah dengan membawa rombongan santri sebanyak satu bus. Setelah selesai sholat jenazah, saat KH. Nur Hidayatulloh duduk dengan beberapa tamu lain untuk menunggu upacara pemberangkatan jenazah, Pak Abdul Aziz membisiki bahwa sebelum pak yusuf sedo, sudah berpesan kepada istrinya agar rembugan masalah tukar guling sawah itu di tentukan dengan  anak-anaknya.

    Kesepakatan Bu Yusuf dengan anak-anak rembugan masalah tanah sawah, akan dilanjutkan setelah 40 hari dari meninggalnya pak yusuf. Namun belum genap 40 hari yakni baru ± sepuluh hari dari meninggalnya Pak yusuf, Bu yusuf mengutus putranya yang bernama wahyu untuk sowan KH. Nur Hidayatulloh menyampaikan kabar bahwa Bu Yusuf  dan seluruh putra-putranya menyatakan sepakat untuk melanjutkan rembugan masalah tukar guling tanah sawah.

    Pada tanggal 14 Juli 1996 KH. Nur Hidayatulloh di damping oleh Pak Abdul Azizi dari Ngebrak, kalibeber dan dari manggisan KH. Bahruddin Ahmad, H. Basyir, H. Mustangin dan Mbah Bahrun, datang ke Jambon Magelang untuk ketemu Bu Yusuf dan Putra-putranya, membahas tentang kelanjutan rembugan tukar guling tanah sawah. Rembugan tidak terlalu lama, terjadilah kesepakatan diantara kedua belah pihak. Isi Kesepakatannya antara lain :
     

    1. Bu Yusuf sekeluarga di sebut sebagai Fihak I, dan KH. Nur Hidayatulloh sekeluarga disebut  sebagai Fihak II

    2.   Fihak I menyutujui usulan Fihak II tentang tukar guling tanah sawah milik Fihak II yang berlokasi di antara desa Kalibeber dan Jawar dengan tanah sawah milik Fihak I yang berlokasi di Manggisan, dengan ketentuan sebagai berikut :

    a.     Setiap satu meter persegi ditukar dengan satu meter persegi.

    b.  Bahwa sawah milik Fihak I seluas ± 5380 m2 , sedang sawah milik Fihak II seluas ± 3340 m2 . dengan demikian, maka masih tersisa seluas 2040 m2 .

    c.  Sisa sawah seluas 2040 m2 yang 1040 m2 di wakafkan oleh Fihak I ke Fihak II, dan yang seribu meter lagi di bayar oleh Fihak II dengan harga permeter 10.000,-.

    Sampai disini, tuntaslah sudah rembugan tukar guling tanah sawah antara Fihak Bu Yusuf dengan Fihak KH. Nur Hidayatulloh.

    Tanah seluas 5380 m
    2 itu , terdiri dari dua lokasi, sebut saja lokasi A dan B. luas sawah berada dilokasi “A” adalah 3580 m2, sedangkan  yang berada di lokasi “B” seluas 1800 m2 .

    Sebagian dari 1800 m
    2 itu, kemudian ditukar guling dengan sawah milik dari istrinya slamet Nanu, yang kebetulan gandeng dengan sawah yang berlokasi di “A”. sisa sawah yang berlokasi dilokasi “B” tinggal ± 603 m2.

    Disamping sawah-sawah tersebut di atas, KH. Nur Hidayatulloh, juga membeli sawah Pak Misbahul seluas ± 100 m
    2 . sawah yang ini dibeli disamping untuk menambah luasnya, juga untuk meluruskan batas-batas sawah yang semula berbelok-belok. Harga permeternya Rp. 10.000,-
     

    IV.  PEMBERSIHAN DAN PERATAAN LOKASI
     
    Sawah yang akan dijadikan lokasi pondok Pesantren, itu Nampak kurang produktif untuk ditanami padi. Ketebalan tanahnya kurang ideal untuk ditanami padi. Banyak cadas dan bebatuannya. Bahkan banyak batu-batu besar yang berukuran sebesar badan kerbau atau lebih. Diantara batu-batu besar yang berukuran besar itu, ada salah satunya yang seperti bangkong. Bahkan konon menurut cerita sebagian masyarakat setempat, batu tersebut dianggap angker. Tidak ada yang berani duduk atau nongkrong di atas batu tersebut. Bahkan berkembang cerita mistis, katanya dari dalam batu tersebut kadang keluar bangkong yang berukuran sangat besar, yang besarnya itu dianggap tidak wajar. Cerita-cerita ini, dikalangan masyarakat manggisan bisa di kata cukup melegenda. Oleh karenanya persawahan disekitarnya dinamakan Sibangkong.

    K
    ondisi sawah yang tidak rata, bagian sebelah timur posisi sawah tinggi, seelah barat dan selatan rendah (legok), banyak batu – batu besar serta bercadas itu, kemudian diratakan.

    Jalan masuk yang masih berupa sawah dikalaitu, diurug dengan tanah yang dibeli dari tanah galian Pasar Induk Wonosobo yang kebetulan saati itu sedang di bangun pasca kebakaran.

    Pengerjaan perataan sawah itu, dilakukan secara manual, tidak menggunakan alat-alat berat. Kerja bakti masyarakat merupakan andalan utamanya. Diantara desa-desa yang masyarakatnya ikut kerja bakti adalah :

     

    1.     Manggisan

    2.     Pandansari

    3.     Sindon

    4.     Sorogaten

    5.     Sojopuro

    6.     Klesman

    7.     Gesing

    8.     Sendangsari

    9.     Wonokromo

    10.  Jambu

    11.  Tegalsari

    12.   Dero ngisor

    13.   Menjer

    14. Gendoran

    15. Larangan

    16. Siwadas

    17. Topengan

    18. Pringapus

    19. Maron

    20. Depok

    21. Kebrengan

    22. Kejiwan

    23. Mlipak

    24. Kebrengan

    25. Bugangan

    26. Wonobungkah



    Konsumsi para pekerja bakti selama kurang lebih lima bulan, dicukupi oleh masyarakat manggisan, yang diaturnya dengan secara bergilir. Orang yang mengatur giliran tersebut adalah Mbah Bahrun, sosok orang tua yang sangat gigih dalam ikut berjuang mendirikan Pondok Pesantren. menu yang di suguhkan berfariasi, namun yang mendominasi adalah nasi megono.


    V. MUJAHADAH  DILOKASI SEBELUM MEMULAI PEMBANGUNAN GEDUNG
    Meski perataan tanah belum selesai seratus persen, namun dipandang sudah siap untuk didirikan bangunan didalamnya. Maka agar tempat itu dilimpahi keberkahan dan keridloan Alloh SWT, di lakukanlah mujahadah di tempat itu, setiap malam selama bulan romadlon. Agar mujahadah bisa berjalan dengan hidmat, penuh kekhusyu’an, maka dibuatlah gubug bamboo berukuran kira-kira 4x 4 m2 di tengah lokasi tersebut.
     
    Meski perataan tanah belum selesai seratus persen, namun dipandang sudah siap untuk didirikan bangunan didalamnya. Maka agar tempat itu dilimpahi keberkahan dan keridloan Alloh SWT, di lakukanlah mujahadah di tempat itu, setiap malam selama bulan romadlon. Agar mujahadah bisa berjalan dengan hidmat, penuh kekhusyu’an, maka dibuatlah gubug bamboo berukuran kira-kira 4x 4 m2 di tengah lokasi tersebut.

    KH. Nur Hidayatulloh, yang ketika itu masih tinggal di rumah mertua dan setatusnya masih sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotuttholibin Jawar, selama bulan Romadlon, setiap malam dating kelokasi dengan membawa santri sekitar 7 sampai 15 santri untuk mujahadah dan munajat kepada Alloh SWT. Bulan syawal sebelum pembangunan dimulai, lokasinya digunakan untuk acara pengajian Halal Bihalal NU MWC Mojotengah. 
    Dalam acara tersebut, para pengunjung disamping diberi siraman rohani, juga dimintai do’a restunya berkaitan dengan akan dibangunnya sebuah Pondok Pesantren dalam lokasi tersebut.

     

     

     


    Asmaul Husna


    KALENDER


    MINI CHAT