PENCARIAN

BERITA TERATAS

KOMENTAR

    POLING
    Bagaimana Menurut Anda Website Ini?

    Sangat Bagus
    Bagus
    Cukup
    Kurang

    Lihat Hasil Poling


    ARSIP PONDOK

      June 2017 (1)

      December 2016 (1)

      November 2016 (2)

      September 2016 (1)

      February 2016 (1)

      March 2014 (1)

      May 2013 (18)

      April 2013 (4)


    AGENDA


    Beranda » Makalah » MENGENAL TASHAWWUF

    Senin, 20 Mei 2013 - 17:24:47 WIB
    MENGENAL TASHAWWUF
    Diposting oleh : Administrator
    Kategori: Makalah - Dibaca: 1997 kali

    MENGENAL TASHAWWUF

    KH.Nur Hidayatulloh

    بسم الله الرحمن الرحيم 

    Telah banyak ulama dan intelektual muslim yang mendefinisikan tashawwuf dengan gaya bahasa dan redaksi yang berbeda sesuai dengan kapasitas keilmuannya masing-masing. Namun, apabila di tarik kesimpulan kesemuanya itu memiliki pengertian dan makna yang sama.

    Di dalam catatan kaki kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah dalam  al-fashal ar-robi’ di jelaskan bahwa Tashawwuf adalah merupakan cabang ilmu untuk mengetahui tentang ikhwal pembersihan jiwa dan penjernihan akhlaq serta membangun (manusia) baik dari sisi lahir maupun bathin untuk meraih kebahagiaan yang abadi.

    Yang menjadi tujuan pokok ajaran tashawwuf, adalah menyadarkan manusia agar supaya RIDLO ALLAH itu menjadi tujuan utama hidupnya dan nilai-nilai spiritual seperti kecintaan kepada Allah dan Rosululloh, kebersihan hati dan pikiran dari sampah kehidupan duniawi, keistiqomahan dan keikhlasan beribadah untuk mencari rahmat dan ridlo Allah SWT menjadi busana indah yang senantiasa disandangnya.

    Dalam wilayah ketashawwufan, segala kesenangan dan kenikmatan duniawi bukanlah merupakan tujuan hidup. Hal-hal yang bersifat duniawi hanya di posisikan sebagai sarana (wasilah) untuk mendapatkan kenikmatan puncak (ghoyah) yakni rahmat dan ridlo Allah SWT. Ketika misalnya harus memilih diantara mamiliki atau tidak memiliki sesuatu, harus melakukan atau tidak melakukan sesuatu, yang menjadi pertimbangan untuk memilih adalah semata-mata ridlo Allah SWT. Mana hal yang diridloi atau paling diridloi Allah, mana yang di cintai atau yang paling di cintai Allah, itulah yang menjadi pilihan untuk mendeteksi ridlo Allah itu berada di posisi mana maka ilmu tentang aqidah, syariah dan akhlaq yang berdasarkan kepada nash Al-Qur’an, Al-Hadits, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas sudah barang tentu harus di kuasai dengan baik. Semakin tinggi tingkat penguasaan seseorang tentang ilmu-ilmu tersebut semakin tinggi pula kemampuan mendeteksi keberadaan ridlo Allah SWT, dan semakin tingginya kemampuanm mendeteksi, memilih dan mengamalkan hal-hal yang di ridloi Allah SWT, maka semakin tinggi pula derajat ketashawwufannya.

     

    PANDANGAN TOKOH SHUFI TENTANG TASHAWWUF

    1.     MA’RUF AL-KARKHI

     

    Nama lengkapnya adalah Abu Mahfudh Ma’ruf  bin Al-Fairus Al-‘Abid Al-Karkhi, yang akhirnya terkenal dengan sebutan Ma’ruf Al-Karkhi.

     

    Menurut Ma’ruf Al-Karkhi Tashawwuf adalah merupakan pelaksanaan amal yang istiqomah yang di dalam amal tersebut terhimpun Himmah yang tertuju semata-mata kepada Allah, di ikuti kesibukan dzikir dan berangkat menuju pada-Nya.

     

    2.   AL-SYA’RONI

    Nama lengkapnya adalah Abdul Mawahib bin Ahmad bin Ali Al-Sya’roni.

    Menurut beliau bahwa tashawwuf adalah ilm dimana terbit dari hati para wali tatkala memancar dan memantul dari tingkah laku mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunah. Setiap amal perbuatan memancarkan sinar-sinar ilmu, akhlaq dan rahasia-rahasia yang sulit diuraikan dengan kalimat-kalimat biasa. Dengan kata lain, secara sederhana, tashawwuf adalah intisari dari pelaksanaan syari’at. Oleh karena itu, dalam pandangan Al-Sya’roni, setiap shufi pasti faqih dan tidak setiap faqih adalah shufi. Seorang shufi dalam amalnya tidak berhenti pada batas-batas halal atau haram, sah atau tidak sah, tetapi lebih dari itu, ia menukik kepada permasalahan sampai kepada dasar-dasar hakikat yang bersifat bathin hingga sampai pada kesejatian syara’ itu sendiri.

     

    3.   JUNAIDI AL-BAGHDADI

    Nama lengkapnya adalah Abdul Qosim Al-Junaidi bin Muhammad Al-Khazzaz Al-Nahwandi.

    Menurut beliau Tashawwuf adalah berbudi pekerti yang baik dan meninggalkan budi pekerti yang buruk, menjernihkan hati dalam berhubungan dengan makhluk lain, meninggalkan sifat alamiyah, menekankan sifat-sifat manusia. Menghindari godaan jasmani, mengambil sifat-sifat rohani, mengikatkan diri pada ilmu hakikat, mengingat pada Allah, dan mengikuti sunnah-sunnah rosululloh.

    Al-Junaidi juga mengajarkan bahwa segala jalan yang dilalui para shufi seluruhnya tertutup kecuali jalan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Dengan kata lain, tashawwuf Al-Junaidi benar-benar berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh. Mewujudkan keseimbangan antara lahir dan bathin, antara hakikat dan syari’at, antara ilmu dan amal shaleh.

    Tashawwuf tidak boleh meninggalkan syari’at. Bagi Al-Junaidi tashawwuf yang meninggalkan syari’at adalah tercela dan tidak bisa diikuti.

    Bagi Abdul Qosim Al-Junaidi Al-Baghdadi, amaliah seorang shufi harus melaksanakan tiga rukun amal. Pertama, melazimi dzikir yang tidak pernah henti bersama himmah dan kesadaran yang penuh. Kedua, mempertahankan tinggat kegairahan (wajd) yang tinggi. Ketiga, selalu melaksanakan syari’at secara tepat dan ketat.

     

    4.   SAYYID AHMAD AR-RIFA’I

     

    Nama lengkapnya adalah Sayyid Ahmad bin Yahya bin Hazim bin Rifa’ah Al-Maghribi Al-Husaini. Ada yang mengatakan ayahnya adalah Sayyid Abdul Hasan Ali Al-Rifa’i Al-Husaini, dinisbatkan pada kakeknya Rifa’ah Al-Maghribi Al-Husaini. Beliau dilahirkan didesa Hasan yang berada di daerah Wasith di Iraq pada tahun 512 H. Neneknya berasal dari Maroko (Maghribi) dan pindah ke Iraq dan menetap di negeri Ummu Ubaidah di kawasan antara Al-Wasith dan Basrah, Iraq.

     

    Dalam pandangan beliau ajaran tashawwuf yang pertama harus di terapkan adalah kepatuhan dan pengamalan syari’at Islam. Maka melaksanakan semua perintah Allah dan Sunnah Rasululloh adalah tidak dapat ditawar-tawar dan yang menyimpang darinya wajib segera ditolak. Dengan kata lain, tugas utama tashawwuf adalah melaksanakan semua syari’at Allah itu. Sedang methode yang dilaksanakan tashawwuf adalah methode yang pertama melaksanakan syari’at itu yang tidak lain adalah Rasululloh sendiri. Maka kebenaran pelaksanaan tashawwuf adalah kebenaran yang terpancar dari sunnah Nabi. Nabi adalah pintu dimana orang akan melalui pintu itu jika ingin masuk dalam mahligai ketuhanan. Nabi adalah pintu Al-Hadlrat Al-Rahmaniyah.

     

    5.    SAYYID ABDUL HASAN ASY-SYADZILI

     

    Nama lengkapnya adalah Quthub Ali bin Abdulloh bin Abdul Jabbar bin Tamim bin Hurmuz bin Hatim. Dan seterusnya sambung nasabnya sampai Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA. Namun setiap orang shufi mengenalnya dengan nama Abu Hasan Asy-Syadzili.

     

    Menurut beliau tashawwuf adalah merupakan latihan-latihan jiwa dalam rangka beribadah dan menempatkan sesuai ketentuan-ketentuan Illahi. Dalam pengertian demikian, tashawwuf mengandung aspek-aspek yang amat penting meliputi: 1. Berakhlaq dengan akhlaq yang di berikan Allah. 2. Patuh dan selalu bersama perintah-perintah Allah. 3. Menguasai hawa nafsu dan selalu malu kepada Allah. 4. Berketetapan dan berkekalan dengan Allah.

     

    6.   AL-GHOZALI

     

    Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Ghozali. Beliau dilahirkan di Thus daerah Khurasan termasuk wilayah Persia (Iran).

     

    Menurut beliau tashawwuf pada hakikatnya adalah pembersihan diri dan pembeningan hati secara terus menerus hingga mampu mencapai musyahadah. Oleh karena itulah beliau menekankan betapa pentingnya pelatihan jiwa (riyadlatunnafsi) penempaan moral atau akhlaq yang terpuji baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT.

     

    Dalam bertashawwuf Al-Ghozali menghimpun aqidah, syari’ah dan akhlaq dalam suatu sistematika yang kuat dan amat berbobot. Menurut beliau ada dua bagian penting dalam tashawwuf, Pertama, mengandung bahasan hal-hal yang menyangkut ilmu mu’amalah dan bagian kedua mengandung bahasan hal-hal yang menyangkut ilmu mukasyafah. Kedua bagian tersebut secara gamblang di uraikan dalam karnyanya yang bernama Ichya’ Ulumiddin

    والحمد لله ربّ العالمين. والله اعلم


    Asmaul Husna


    KALENDER


    MINI CHAT