PENCARIAN

BERITA TERATAS

KOMENTAR

    POLING
    Bagaimana Menurut Anda Website Ini?

    Sangat Bagus
    Bagus
    Cukup
    Kurang

    Lihat Hasil Poling


    ARSIP PONDOK

      June 2017 (1)

      December 2016 (1)

      November 2016 (2)

      September 2016 (1)

      February 2016 (1)

      March 2014 (1)

      May 2013 (18)

      April 2013 (4)


    AGENDA


    Beranda » Makalah » ISRA

    Selasa, 14 Mei 2013 - 08:07:34 WIB
    ISRA
    Diposting oleh : Administrator
    Kategori: Makalah - Dibaca: 1911 kali

    MEMPERINGATI

    ISRA’ DAN MI’RAJ RASULULLAH SAW

     

    بسم الله الرحمن الرحيم

     

    Isra’ adalah perjalanan Rasulullah SAW atas kehendak Alloh SWT di waktu malam hari dari Masjidil Harom Makah ke Masjidil Aqso Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah naiknya beliau dari Masjidil Aqso ke langit pertama, kedua sampai ke tujuh dan lalu naik lagi ke Sidrotil Muntaha.

     

    Alloh SWT berfirman :

     

    سُبْحَانَ الَّذِىْ أَسْرَىْ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ اْلمَسْجِدِ اْلحَرَامِ إِلَى اْلمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِىْ بَارَكْنَاحَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ أَيَاتِنَاۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ﴿١

    Artinya :

    Maha Suci Allah, yang menjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dari masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, yang telah Kami berkati di kelilingnya, supaya kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami, sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat ( QS. al-Isra: 1 )

     

    Menurut keterangan yang paling kuat dan populer dikalangan Islam di Negara kita tercinta, bahkan seluruh dunia, bahwa peristiwa isra’ mi’raj Nabi besar Muhammad SAW. Terjadi pada tanggal 27 Rajab, sesudah pengangkatan beliau sebagai Rasulullah atau kira-kira setahun sebelum beliau hijrah ke Madinah.

     

    Menjelang peristiwa isra’ mi’raj itu, Nabi SAW berserta para pengikutnya baru saja mengalami pemboikotan total oleh kaum jahiliyyah quraisy selama 3 tahun di lembah Syiib, suatu tempat yang terletak di luar kota Makah.

     

    Tahun itu merupakan tahun yang banyak mengalami kesulitan dan kesedihan serta duka nestapa, bukan hanya pukulan dari musuh-musuhnya, tetapi juga beliau pribadi berturut-turut menderita musibah yang sangat berat :

     

    Pertama, meninggalnya paman beliau yang bernama Abu Thalib. Abu Thalib seorang tokoh quraiys yang disegani, yang mengasuh Muhammad sejak kecil selalu siap membela keponakannya dari setiap serangan dan ancaman musuh-musuhnya, meskipun dia sendiri meninggal belum masuk Islam.

     

    Kedua, wafatnya Siti Khadijah, istri Nabi SAW. Beliau wafat setelah beberapa hari Abu Thalib wafat. Siti Kadijah bukan saja sekedar istri dalam kehidupan Rasulullah SAW. Tetapi beliau juga sebagai tulang punggung yang tangguh, pembela yang gigih dalam membantu perjuangan Rasulullah SAW. Siti Khadijah adalah orang pertama yang membenarkan dan beriman kepada Rasulullah SAW., yang selanjutnya menyerahkan dan mengorbankan harta bendanya untuk suaminya.

     

    Ketiga, penghinaan dan penganiyaan yang di alami Nabi di Thaif. Setelah wafat kedua orang pembantu utamanya, Rasulullah SAW sangat sedih, terror dari kaum jahiliyyah makin meningkat pula, maka Nabi mencoba mengajak orang-orang Thaif dengan pertimbangan di Thaif ada beberapa suku yang masih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Nabi, dengan harapan bisa memberi bantuan kepada beliau. Tetapi kenyataan sebaliknya. Orang-orang Thaif mengusir dan melempari Nabi dengan batu, sehingga beliau dengan anak angkatnya Zaid bin Haritsah menderita luka-luka. Walaupun demikian beliau tetap berdoa, ya Allah, berilah petunjuk kaum ku, karena mereka (melakukan demikian) disebabkan tidak mengetahui.

     

    Inilah salah satu tanda kebesaran jiwa Nabi Muhammad SAW disaat kritis menimpa dirinya, beliau masih tetap mendoakan agar mereka mendapat petunjuk.

     

    Pada saat yang gawat itulah, maka terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj, sebagai jawaban dari Allah SWT terhadap tantangan-tantangan yang di hadapi Nabi SAW dan pengikut-pengikutnya. Dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu dapat di simpulkan bahwa Nabi SAW mendapatkan injeksi tenaga baru, yaitu tambahan kekuatan jiwa dan kekuatan keyakinan. Sehingga, lebih mantap dalam melanjutkan perjuangan berserta para sahabat yang setia, untuk menegakkan kebenaran yang akan ditugaskan Allah kepada-Nya, di tengah-tengah kegelapan umat manusia di permukaan bumi pada waktu itu.

     

    Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan titik tolak baru bagi sukses besarnya yang akan di alami kaum muslimin generasi itu, khususnya setelah Nabi hijrah ke Madinah, setahun setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu.

     

    Memang, keyakinan semacam itu merupakan landasan yang paling kuat untuk mencapai sukses dalam setiap perjuangan. Bagi bangsa Indonesia, yang kini sedang bekerja keras membangun di segala bidang. Maka mencontoh ketekunan dan keteguhan Nabi Muhammad SAW., dalam perjuangan membangun agama Islam adalah tepat sekali, kalau kita mengharapkan sukses yang besar dan diridhai oleh Allah SWT., dengan semangat perjuangan Proklamasi Kemerdekaan 1945.

    Ada beberapa pelajaran yang dapat kita telaah dari peristiwa Isra’ Mi’raj, sebagaimana yang dicantumkan Allah dalam surah Bani Israil ayat 1,

     

    لَقَدْ رَأَى أَيَاتِ رَبِّهِ اْلكُبْرَى

    Artinya :

    Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhan yang sangat hebat (QS. An Najm : 18)

     

              Tanda-tanda kebesaran Allah itu, seperti pembenahan dan pembersihan dada serta hati Rasulullah SAW. oleh malaikat Jibril yang kemudian di penuhi dengan hikmah dan iman.

              Hikmah sebagai modal utama untuk mendorong seseorang untuk berpikir dan iman sebagai landasan insani untuk berzikir.

              Dengan dua kekuatan utama, fikir dan zikir itu, akan lahir manusia-manusia utama, insani kamil yang berguna bagi pembangunan bangsa dan Negara.

              Mereka itulah yang dilukiskan Allah dalam al-Quran dengan sebutan Ulul Albab. Selanjutnya Nabi SAW.  dengan berkendaraan Buraq, yang luar biasa larinya, berangkat dari Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha; Nabi menjelajahi langit sampai ke Sidratul Muntaha, yang tiada bandingannya, memasuki surga untuk menyaksikan keindahannya dan akhirnya kembali berada di Makkah dalam waktu yang kurang dari satu malam.

              Masih banyak sunatullah yang belum kita ketahui, bahkan ada yang tidak mampu kita mengetahuinya, karena akal manusia terlalu kecil dibandingkan dengan kekuasaan sunatullah itu.

              Firman-firman Allah,

    عَالِمُ اْلغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا ﴿٢٦﴾ إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا ﴿٢٧

    Artinya :

    (Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakang-Nya.(QS. Al-Jinn : 26-27)

              Semuanya itu adalah peristiwa luar biasa, peristiwa mu’jizat yang dianugerahkan Allah kepada kekasih_Nya, Muhammad SAW.

              Kalau kita renungkan dalam-dalam, meskipun kejadian tersebut sangat luar biasa, tetapi kalau terjadi atas kehendak Allah tidak mustahil. Hal-hal seperti itu wajib kita imani asalkan berasal dari Allah (tercantum dalam al-Quran) atau dari Nabi (tertera dalam adits-hadits sahih).

              Sikap demikian telah dicontohkan sahabat Abu Bakar, beliau membenarkan tanpa reserve, sehingga beliau bergelar ash-shidiq, berarti orang yang sangat membenarkan atau orang yang sangat benar.

              Demikianlah sunatullah yang tidak berganti-ganti, seperti telah dinyatakan Allahdalam surah Fathir ayat 43,

    إِسْتِكْبَارًا فِى اْلأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِۚ وَلاَيَحِيْقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلاَّ بِأَهْلِهِۚ فَهَلْ يَنْظُرُوْنَ إِلَّا سُنَّتَ اْلأَوَّلِيْنَۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللهِ تَبْدِيْلاًۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللهِ تَحْوِيْلاً ﴿٤٣

    Artinya :

    Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mandapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.(QS. Al-Fathir : 43)

              Sunatullah, adalah cara Allah menyalurkan kehendak dan kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya. Sunatullah ini sesuai dengan ilmunya yang tak terbatas kita umat manusia hanya sedikit mengetahui tentang sunatullah itu.

    قُلْ لاَّ يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ اْلغَيْبَ إِلاَّ اللهُۚ وَمَا يَشْعُرُوْنَ أَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ ﴿٦٥

    Artinya :

    Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan di bangkitkan. (QS. An-Naml : 65)

              Dalam Islam, akal dan iman saling mengisi dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas manusia untuk megabdi kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya.

              Sebagai contoh, yang menyangkut urusan  Isra’ Mi’raj ini adalah tentang kecepatan Nabi SAW, dalam menjelajahi langit. Menurut ilmu alam, berdasarkan teori realitivitas khusus dari Einstein, kecepatan materi tidak dapat melampaui kecepatan cahaya dan vacuum, yaitu 300.000 kilometer perdetik. Misalnya ketika Nabi SAW. Mi’raj ke langit dengan kecepatan cahaya tersebut, maka untuk mencapai bintang terdekat kepada matahari (tata surya) kita saja, yaitu bintang proxima Centauri harus dibutuhkan waktu 4,27 tahun. Karena itu, Nabi Mi’raj ke langit tidak dengan kecepatan materi, tetapi dengan sunatullah yang tidak terjangkau oleh kekuatan akal manusia.

             

              Yang paling penting dalam peristiwa Isra’ Mi’raj itu adalah diwajibkannya sholat lima waktu sehari semalam, yang pahalanya asama dengan lima puluh waktu, sebagaimana diwajibkan pertama kali; karena segala kewajiban akan diberi pahala sepuluh kali lipat.

              Shalat ini, selain kewajiban setiap pribadi insani, diwajibkan pula untuk mengajak keluarga (anak istri) di samping diperintahkan pula bersabar menahan kesukaran-kesukaran dan menolak segala kemalasan yang timbul dalam melaksanakan shalat itu. Sebagaimana firman Allah :

     

    وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۖ لَا نَسْئَلُكَ رِزْقًاۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَاْلعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى ﴿١٣٢

    Artinya :

    Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Tha Ha : 132)

              Kemudian Allah berfirman pula :

     

    فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا﴿٥٩

    Artinya :

    Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam : 59)

              Jelaslah dengan ayat ini, orang-orang yang mengikuti hawa nafsu ialah orang-orang yang gemar melakukan maksiat.

              Ayat tersebut secara implicit mengajarkan bahwa meninggalkan shalat adalah pangkal kemaksiatan. Jadi segala kemaksiatan, seperti korupsi, dusta, khianat, zina, judi, dan lain-lain, dapat diobati kalau manusia-manusianya sudah mau kembali menegakkan sholat dengan sebaik-baiknya, dengan ikhlas dan khusuk sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

              Dengan shalat, berarti seorang telah mendidik diri sendiri untuk memiliki kekuatan hidayah dan taufiq Allah SWT yang memancar ke dalam qalbu seseorang yang menegakkan shalat secara rutin dan sabar, lima kali sehari semalam.

              Hubungan dengan Allah secara khusyuk inilah yang mendatangkan ketinggian jiwa, kemuliaan akhlak, kejayaan hidup dunia akhirat. Menegakkan shalat berarti menjadikan diri manusia, menjadi sebaik-baik umat di dunia ini.

              Dengan shalat manusia memiliki kebersihan lahir batin dan mencintai serba bersih diri, bersih lingkungan, bersih keluarga, bersih ketetanggaan, bersih wilayah dan akhirnya bersih dalam berbangsa dan bernegara, yang dalam istilah al-Quran : negara yang suci bersih di bawah ampunan Ilahi.

              Lain dari itu, shalat merupakan kewajiban, bahkan merupakan kebutuhan hidup dan kehidupan seseorang Muslim dan sekaligus merupakan anugerah Allah yang tidak ternilai bagi pembinaan mental dan akhlak yang luhur dan obat yang mujarab bagi kemerosotan dan deladensi moral dewasa ini.

              Dengan sholat, seorang Muslim akan hidup penuh disiplin, baik disiplin pribadi maupun disiplin masyarakat yang akan mengantarkan kita kearah disiplin nasional.

             

    Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Insani

              Umat Islam Indonesia setiap tahun selalu tergugah dengan peringatan Isra’ Mi’raj. Peringatan tersebut untuk mengenang inti makna yang dijemput syari’at shalat, yang oleh Nabi sendiri disebut tiang agama (imaduddin).

              Shalat itu ibadah yang terpenting dan termulia, sehingga di saat Nabi mengajak kepada kaum bani Tsaqif di Thaif, setelah dikepung dan ditaklukkan Nabi, untuk meninggalkan persembahan berhala dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang-orang Thaif tersebut menjawab, “ kami mau mengikuti agama anda (Muhammad) asal anda tidak membebani kami dengan sembahyang,”Nabi dengan tegas menjawab, “Tidak ada artinya seseorang memeluk Islam, kalau shalat tidak menjadi amaliah pokok.”

              Dari jawaban Nabi demikian, kita semakin yakin, betapa pentingnya memperingati Isra’ Mi’raj Nabi kita itu, yang dipanggil Allah untuk member perintah besar dan agung ialah perintah shalat.

              Karena itu, kalau shalat tidak biasa kita lakukan dengan sadar, berarti dengan sadar pula kita telah melangkah ke luar dari agam Islam, walaupun kita telah mengucapkan syahadat dan selalu menyebut nama Allah (dzikrullah).

              Dengan shalat, kita masih mempunyai kemegahan tersendiri, masih marasa tenang dan tentram.

              Contohnya, bila disuatu daerah baik desa maupun kota bahkan dusun sekalipun, tetapi di tempat-tempat itu kita temukan langgar atau masjid’ jagalah hati dan pikiran kita, karena kita yakin bahwa penduduk disana masih mencintai dan melakukan shalat, mendekatkan diri, merapatkan qalbu kepada Maha Pencipta. Bahwa sewaktu-waktu kita saksikan orang yang sembahyang hanya di atas batu di tepi sungai dengan pakaian yang sederhana sekali, karena berarti walaupun keadaan lahirnya kurang bernilai, namun tenaga ruhaniahnya cukup menyentuh qalbu dan puncak sadar pendekatan ke hadapan khaliknya.

              Mengapa mereka bersikap demikian? Karena mereka mempunyai keyakinan bahwa dengan shalat jiwa seseorang akan kuat, dengan shalat pulalah keislamannya akan hebat wajah mereka akan bersinar cemerlang. Pandangan dan sorot matanya tampak bersinar pula. Sinar apakah itu? Sinar bekas sujud, sinar berkat shalat. Firman Allah;

     

    مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِۚ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى اْلكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًاۖ سِيْمَاهُمْ فِىْ وُجُوْهِهِمْ مِنْ أَثَر ِالسُّجُوْدِۚ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرَاةِۚ وَمَثَلُهُمْ فِى اْلإِنْجِيْلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْئَهُ فَأَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوْقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ اْلكُفَّارَۗ وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيْمًا ﴿٢٩

    Artinya :

    Muhammad itu adalah Utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath : 29)

    Bekas sujud tersebut yang berarti bekas shalatnya, terlihat di dunia dan lebih-lebih nanti di akhirat, di saat perjumpaan mereka dengan Rasulullah SAW di al-Kautsar yang disebut pula al-Haudl. Nabi kita menyatakan bahwa untuk memudahkan tersebut selain nama-nama yang indah yang dianjurkan Nabi, juga dimuka umatku ada tandanya, yakni berseri-seri dan bersih bekas wudhu.

              Karena dengan shalat itu, akan menjadikan hati manusia itu merasa lembut. Dalam perjuangan hidupnya, di perjalanan jauh dalam mendirikan rumah tangga dan menempuh hidupnya dalam membimbing anak dan istri dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, shalat adalah alat pengobor semangat pendorong segala cinta dan cita-cita sesuai firman  Allah :

     

    وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِيْنَ ﴿٤٥

    Artinya :

    Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. Al-Baqarah : 45)

              Shalat itu berat, kecuali bagi orang yang khusyuk siapa orang yang khusyuk yaitu orang mempunyai kontak batin dengan Tuhan sebagaimana firman Allah dalam ayat lain, Dirikanlah Shalat, supaya engkau zikir (ingat) kepada-Ku.

              Bertambah zikir (ingat) kepada Tuhan, berarti bertambah kuat shalatnya dan bertambah pula control hidupnya, karena yang mengontrol hidup kita bukan orang lain melainkan hanya : “di antara diri kita dan di antara Tuhan kita”.

              Inilah yang dijemput Nabi besar kita dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj untuk menyampaikan petaruh ini, titipan ini. Sehingga diri seseorang Muslim akan merasa bangga, merasa dirinya mempunyai nilai yang hakiki, karena dia diberi kesempatan terus-menerus oleh Allah sekurang-kurangnya lima waktu dalam sehari semalam, untuk menyatakan dirinya kepada Allah.

              Ibarat stop kontok diambil kawatnya dan dibawa ke lubang yang tersedia dalam dinding, di situ telah menanti, lkaslah!....Allahu Akbar! Maka bergetarlah arus listrik iman kita, langsung diterima Allah sendiri sebab adanya kontak jiwa tadi dengan Allah SWT.

              Mari kita renungkan kembali, bagaimana ajakan nabi yang menyentuh Qalbu seseorang dengan sejuknya lewat ajakan shalat, membacakan Allahu Akbar.

              Disaat seseorang dalam khusyu’ sekalipun, pekerjaan yang terasa dalam krisis, ketika itu mulai menghadap ilahi dengan shalat, maka muka kita menghadap ka’bah dengan ucapkan Allahu Akbar, maka segala penghambat kita pandang kecil belaka.

              Kalau kita telah naik, ibarat terbang menghadap Illahi, maka segala urusan dunia ini, kita pandang kecil saja, jiwa kita kembali besar dan kuat, karena kekuatan Illahi yang menyertai kita sehingga tutup shalat tadi dengan assalamu alaikum warah matullohi wabarakaatuh, mengontakkan jiwa dengan Allah.

              Peristiwa isra’ dan mi’raj intinya perintah shalat tadi, karena nabi kita pernah melihat neraka dan menengok surga. Di surga itu beliau melihat daftar nama-nama ahli surge, di antaranya sahabat Bilal.

              Nabi turun ke dunia, langsung bertanya kepada bilal, “Oleh sebab apa sehingga namamu disebut di surga?”

              Bilal menjawab, “Saya sempurnakan hidup saya dengan kepatuhan mengerjakan shalat.”

              Kalau seandainya beliau bukan sayyidul muntahi, beliau  tentu akan terus diam di surge tidak akan kembali lagi ke dunia.

              Namun tugas beliau belum selesai setelah mi’raj beliau masih menemui perjuangan yang baru. Demi kesempurnaan kita umat Muhammad sekarang ini, beliau kembali lagi ke mekkah.

              Akhirnya, kita renungkan firman Allah :

    حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ اْلوُسْطَى وَقُوْمُوْا لِلَّهِ قَانِتِيْنَ ﴿۲٣٨

    Artinya :

    Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.(QS. Al-Baqarah : 238)

              Kalau shalat, disamping menjadi kewajiban insani yang paling utama, juga harus menjadi kebutuhan hidup untuk menyempurnakan kehidupan, agar hidup dan kehidupan lebih bermakna lagi.


    Asmaul Husna


    KALENDER


    MINI CHAT