PENCARIAN

BERITA TERATAS

KOMENTAR

    POLING
    Bagaimana Menurut Anda Website Ini?

    Sangat Bagus
    Bagus
    Cukup
    Kurang

    Lihat Hasil Poling


    ARSIP PONDOK

      June 2017 (1)

      December 2016 (1)

      November 2016 (2)

      September 2016 (1)

      February 2016 (1)

      March 2014 (1)

      May 2013 (18)

      April 2013 (4)


    AGENDA


    Beranda » Makalah » Dari Salafiyyah Menuju Wahhabiyyah

    Jumat, 10 Mei 2013 - 15:09:12 WIB
    Dari Salafiyyah Menuju Wahhabiyyah
    Diposting oleh : Administrator
    Kategori: Makalah - Dibaca: 2099 kali

    Dari Salafiyyah Menuju Wahhabiyyah

    Abdul Ghofur Maimoen

     

    Makna Salaf

     v Secara etimologi, salaf memiliki makna person atau golongan yang telah mendahului kita. (Al-‘Ain, karya Imam Al- Kholil)

     v Penggunaan ini bisa kita temukan dalam QS. Az-Zukhruf/ 43 : 56

    فَـجَـعَـلْـنَا هُـمْ سَـلَـفًا وَمَـثَـلًا لِلْآخِـرِيْـنَ

    dan Kami jadikan mereka sebagai pendahulu (sebagai pelajaran) dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.”

     v Dalam penggunaan kalimat salaf dapat kita temukan dalam riwayat Imam Muslim tentang bisikan Rosululloh SAW kepada putrinya menjelang wafat :

    إنك أول أهـلـي لحوقابي, ونـعم السلف أنا لك

    “Engkau adalah yang pertama dari keluargaku yang menyusul diriku, dan sebaik-baik salaf adalah aku bagi dirimu.”

     

    Terminologi Salaf

     v Salaf  adalah umat Islam era tiga kurun pertama yang agung, yakni generasi sahabat, tabi’in dan atba’i at-tabi’in.

     v Salaf juga berarti para pengikut madzhab Hambali yang muncul pada kurun ke empat, yang mengklaim diri sebagai pengikut Ahmad bin Hambal, kemudian muncul kembali pada kurun ke tujuh dipimpin oleh Ibnu Taimiyyah, lalu muncul dengan kuat pada kurun ke dua belas oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab di Jazirah Arabia.

     v Salaf digunakan pula untuk menunjuk kepada gerakan pembaharuan modern yang dibawa oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad ‘Abduh, yang keduanya juga mengusung salafisme sebagai simbol gerakan.

     v Terahir salaf juga berarti pengikut salafisme jihadistik yang dipimpin oleh semisal Ben Laden.

     v Di Indonesia, berbeda dari itu semua salafiyyah berarti tradisionalisme. Pesantren Salaf adalah pesantren tradisional.

     

    Lahirnya “Salafisme” Sebagai Madzhab

    خـيـر أمـتـي الـقـرن الـذيـن يـلـونـي, ثـم الـذيـن يـلـونـهـم

    “ Sebaik-baik umatku adalah mereka yang hidup di kurun setelahku, lalu mereka yang (hidup di kurun) sesudahnya, lalu mereka yang (hidup di kurun) sesudahnya.”HR.Muslim

    v Hadits ini menjadi pijakan tiap  muslim untuk berintisab kepada salaf. Salafisme dengan demikian menjadi “milik umum”, bukan sebuah madzhab yang bisa diklaim per-kelompok.

    v Al-Baghdadi (w. 429) dalam al-Farq Bain al –Firaq, ibn Hazm (w. 456) dalam al-Fashl fi al-Milal wa an-Nihal, dan Asy-Syuhrastani (w. 548) dalam Al-Milal wa an-Nihal, tidak menyebut salafiyyah sebagai madzhab.

    v Ada riwayat dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (w. 101) tentang Qadha dan Qadar, yang mengarah kepada madzhab salafiyyah :

    فارض لنفسك ما رضي به القوم لأنفسهم فإنهم على علم وقفوا, وببصر نافذ كفوا, وإنهم على كشف الأمور كانوا أقوى, وبفضل ما كانوا فيه أولى, فإنهم هم السابقون

    v Akan tetapi juga ada riwayat dari Hasan al-Basri (w. 110), sosok yang banyak dianggap memiliki kecenderungan rasionalistik, yang mengarah kepada paham kebalikannya, juga menyangkut masalah qadha dan qadar :

    لم يكن أحد في السلف يذكر ذلك ولا يجادل فيه لأنهم كانوا على أمر واحد, وإنما أحدثنا الكلام فيه لما أحدث الناس من النكره له. فلما أحدث المحدثون في دينه ما أحدث الله للمتمسكين بكتابه مايبطلون له المحدثات ويحذرون به من المهلكات.

    v Juga riwayat dari Imam ‘Ali kw :

    لَعَلَّكَ ظَـنَـنْـتُ قَـضَـاءً لَازِمًـا, وَقَدَرًا حَاتِمًـا ! وَلَوْ كَـانَ ذَلِكَ كَـذَلِكَ لَـبَـطَلَ الثَّـوَابُ وَالْـعِـقَابُ, وَسَـقَطَ الْوَعْدُ وَالْـوَعِـيْدُ. إِنَّ اللهَ سُـبْحَانَهُ أَمَرَ عِـبَادَة تَحْـيِـيْـرًا, وَنَـهَـاهُـمْ تَحْـذِيْـرًا, وَكَلَّـفَ يَـسِـيْـرًا, وَلَـمْ يُـكَـلَـفُ عَـسِـيْـرًا, وَأَعْـطَى عَلَى الْقَلِيْلِ كَـثِيْرًا, وَلَمْ يُـعْـصَى مَـغْـلُـوْبًا, وَلَـمْ يُـعْـطَى مُـكْـرِهًـا, وَلَـمْ يُـرْسِـلِ الْاَنْـبِيَاءَ لَعِـبًا, وَلَمْ يُنْـزِلِ الْكُـتُبَ لِلْعِبَادِ عَـبَـثًا, وَلَاخَلَقَ الـسَّـمَـاوَاتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُـمَابَاطِلًا, (ذَلِكَ ظَنُّ الَّـذِيْنَ كَـفَـرُوْا فَـوَيْلٌ لِلَّـذِيْـنَ كَـفَرُوْا مِنَ النَّارِ)

    v Akan tetapi tampaknya kecenderungan pertama lebih mengemuka, utamanya setelah menguatnya model pemahaman Imam Malik di Madinah dan al-Awza’I di Syam, lalu memuncak tatkala Imam Ahmad bin Hanbal memposisikan diri sebagai tokoh yang siap jadi martir melawan arogansi Mu’tazilah.

    v Peristiwa “mihnah khalq al-Qur’an” membawa Imam Ahmad ke puncak pimpinan Ahlussunnah berhadapan dengan Mu’tazilah, dan menjadikan madzhabnya sebagai madzhab sunni yang dinisbatkan kepada salaf, dengan meminggirkan kecenderungan “sunni lain” yang dipelopori oleh Hasan al-Basri.

    v Saat itulah mulai terjadi kristalisasi madzhab Imam Ahmad sebagai madzhab salaf, utamanya melalui pernyataannya yang terkenal :

    لست بصاحب كلام, ولا أرى الكلام في شيء من هـذا إلا ما كان من كتاب الله أو في حديث عن النبي صلى الله عليه وسلّم أو عن الصحابة, فاما غير ذلك فإنّ الكلام فيه محمود.

    v Puncaknya adalah tatkala  fanatisme Hanabaliah menggila pada era Al-Barbahari (Abu Muhammd Hasan bin ‘Ali bin Khalaf), pimpinan Hanabilah di Baghdad (w. 328, menulis buku akidah “Syarh Sunnah.”) , dan Ibn Battah (w. 387, penulis buku “Al-Ibanah ‘an Syari’at al-Firqoh an-Najiyah”).

    v Pada saat madzhab Hanbali memuncak di bawah pimpinan A-Barbahari, Imam Abul Hasan al-Asy’ari (w. 324) meninggalkan Mu’tazilah menuju Ahlussunnah. Tak ada pilihan lain bagi Imam Asy’ari selain mendekat kepada madzhab Hanbali. Dalam sebuah riwayat, dia “sowan” kepada Al-Barbahari, lalu menulis bukunya yang sangat dekat kepada madzhab Hanbali, “Al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah”, yang di dalam mukaddimahnya dia mengatakan :

    قولنا الذي نقول به وديانتنا البي ندين بها التمسك بكتاب الله ربنا عز وجل وبسنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم وما روى عن السـادة الصحابة والتابعين وأئمة الحديث ونحن بذلك معتصمون وبما كان يقول به أبو عبدالله أحمد بن محمد بن حنبل- نضر الله وجهه ورفع درجته وجـزل مثوبته – قائلون ولما خالف قوله مخالفون لأنه الإمام الفاضـل والرئيس الكامل الذي أبان الله به الحق ودفع به الضلال وأوضح به المنهـاج وقمع به بدع المبتد عين وزيع الزائغين وشك الشاكين فرحمة الله عليه من إمـام مقـدم وجـليل معـظم وكبير مفـهـم

     

    “Kudeta Damai” Abul Hasan al-Asy’ari

    v Ketika imam Asy’ari memeluk sunni, dia hanyalah pengikut madzhab Hanbali di bawah baying-bayang Al-Barbaari. Akan tetapi tampaknya fanatisme buta Hanabilah tak memuaskan rasa teologis masyarakat. Masyarakat membutuhkan “jalan tengah” yang  luwes dan tidak rigid seperti dipertontonkan oleh Hanbilah generasi Al-Barbahari.

    v Fase berikutnya adalah saat Imam Asy’ari “merevisi” akidahnya demi menjawab kebutuhan masyarakat untuk keluar dari kekakuan model Al-Barbahari. Maka disusunlah buku yang lain, “Istihsan al-Haudhi fi’Ilm al-Kalam” yang lebih dekat kepada pendekatan-pendekatan Hasan al-Basri.

    v Terobosan-terobosan Imam Asy’ari diterima dengan baik oleh masyarat luas, sehingga lambat laun mengangkatnya menjadi Imamu Ahlussunnah menggantikan dominasi Hanabilah.

    v Puncak kemapanan teologi sunni model Imam Asy’ari adalah tatkala Perdana Mentri Nizam al-Mulk mendirikan madrasah Nizamiyyah di Baghdad pada tahun 459 H. yang melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Imam al-Haromain (w. 478), Imam Ghazali (w. 505), Imam Abu Ishaq Asy-Syairazi (w. 476), dsb.

    v “Kudeta” ini sangat tidak menyenangkan Hanabilah. Sejumlah ketegangan terjadi dalam pentas sejarah antara Asy’ariah dan Hanabilah. Di antara yang terkenal adalah kasus terusirnya Imam al-Haramain dan fitnah antara Ibn al-Qusyairi (w. 514) dan Abu Ja’far al-‘Abbasi. Buku Imam Qusyairi dalam bidang tasawwuf, Ar-Risalah al-Qusyairiyyah”, menjadi catatan-catatan atas upaya meredam kemarahan Hanabilah.

    v Ketidak-puasan ini kemudian berlanjut pada abad ketujuh dengan lahirnya Ibn Taimiyyah (w. 726 H),dan pada abad ke dua belas melalui kemarahan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (w. 1206 H.) yang di kemudian hari terkenal sebagai pendiri Wahhabisme.

     

    Fase-fase Salafisme

    v Pada awal mulanya, Islam adalah satu. Semua merujuk kepada Nabi Muhammad SAW. Pengkotakan secara teologis tak dikenal. Akan tetapi sejarah umat Islam memunculkan banyak pertikaian dan fitnah, utamanya dalam wilayah politik. Selain itu, perkembangan Islam ke wilayah-wilayah non Arab juga berdampak yang luas tidak saja pada ranah sosio-politik, tapi juga pada ranah teologis.

    v Sejumlah pertanyaan muncul, baik yang berkenaan dengan fikih dan politik, maupun yang menyangkut teologis. Dalam menanggapinya, para sahabat tak lagi satu. Ada model “mencari selamat” seperti ‘Umar bin Khottob, Zaid bin Tsabit, dan ‘Abdulloh bin ‘Umar. Ada pula model “melakukan Ibadah” melalui ijtihad, seperti ‘Ali bin Abi Tholib, Ibn ‘Abbas, dan Ibn Mas’ud.

    v Generasi Tabi’in mengikuti generasi sahabat. Sebagaian ada di gerbong pertama seperti Sufyan As-Tsauri, Ibn ‘Uyainah, dan Malik bin Anas, dan sebagian lainnya ada di gerbong kedua seperti Al-Hasan al-Basri dan Abu Hanifah.

    v Peristiwa “mihnah khalq al-Qur’an” melahirkan dominasi “model selamat” dengan pimpinan Imam Ahmad bin Hambal, seperti di bahas sebelumnya. Imam Ahmad bin Hambal berikut pengikutnya dengan demikian adalah generasi awal madzhab Salafiyyah.

    v Setelah mengalami kekalahan dari moderatisme ala “Asy’ariyyah”, salafiyyah menguat kembali dengan lahirnya Ibn Taimiyyah dan murid-muridnya. Mereka ini adalah Salafiyah generasi kedua (tengah). Salafiyyah generasi kedua ini tak cukup kuat menyaingi moderatisme Asya’iroh, karena terlalu kuatnya dominasi kelompok terakhir ini.

    v Pada abad ke dua belas lahir Salafiyyah generasi ketiga (terahir) yang sangat kuat di semenanjung Arabia, dan kemudian menguat di pentas internasional berkat sokongan petro-dolar. Moderatisme ala Asy’ariyyah sempoyongan menghadangnya karena mereka juga mendapat serangan dari salafiyyah pembaharuan model Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad ‘Abduh.

     


     

    Struktur Teologi Salafisme

    v Meletakkan standard kebenaran pada generasi awal Islam :

    -         Rasul dan sahabat (pada era Ahmad bin Hanbal : “ittiba’ adalah mengikuti semua yang dating dari Nabi Muhammad dan dari sahabat-sahabatnya, kemudian seseorang dipersilahkan memilih dalam hal berhadapan dengan pendapat-pendapat tabi’in.” I’lam al-Muwaqqi’in).

    -         Rasul, sahabat, tabi’in, atba’attabi’in, dan segenap imam-imam ahli Hadits. Isma’il As-Sabuni dalam bukunya, ‘Aqidah as-Salaf wa Ashab al-Hadits, mengatakan :”teman-teman saya meminta kepada diriku untuk menulis beberapa pasal tentang pokok-pokok agama yang menjadi peggangan para imam-imam agama dan ulama-ulama Islam yang telah lampau, dan para as-salaf as-salih.”

    -         Pernyataan lebih tegas dating kemudian dari Ibnu Taimiyyah :

    ومن المعلوم بالضرورة لمن تدبر الكتاب والسنة, وما اتفق عليه أهل السنة والجماعة من جميع الطوائف, أن خير قرون هذه الأمة في الأعمال والأقوال, والاعتقاد وغيرها من كل فضيلة أن خيرها القرن الأول, ثـم الذين يلونهم, ثـم الذين يلونهم, كما ثبت ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم من غير وجـه, وأنهم أفضل من الخلف في كلفضيلة من علم, وعمل, وإيمان, وعقل, ودين, وبيان, وعبادة, وأنهم أولى بالبينان لكل مشكل. هذا لايدفعه إلا من كابر المعلوم بالضرورة من دين الإسلام, وأضله الله على علم. مجـموع فتاوى ابن تيمية.

    -         Pada dekade-dekade akhir ini, keinginan untuk mengikuti semua hal yang bertalian dengan as-salaf as-salih semakin manjadi. Yusuf  al-Qardhawi menceritakan, di Islamic Centre di Amerika terjadi perdebatan dan kegaduhan yang tajam hanya karena hadirin pengajian Sabtu dan Ahad duduk di kursi, tidak bersimpuh di atas alas tikar atau sejadah, dan mereka memakai pantaloon bukan jalabiyah, juga mereka makan di atas meja tidak duduk di tanah. Semua ini hal yang tidak di contohkan oleh as-salaf as-salih. (As-Sahwah al-Islamiyyah Baina al-Jumud wa at-Tattaruf)

     

    v Pondasi teologinya adalah pemahaman literal terhadap nas-nas al-Qur’an dan sunnah, dan penolakan terhadap ta’wil.

    -         Generasi awal dari salfiyyah memilih model “tafwidh” dalam memahami nas-nas al-Qur’an dan Sunnah tentang sifat-sifat Allah SWT, yakni iman kepada lafal dan menyerahkan maknanya secara penuh kepada Allah SWT. Pernyataan Imam Malik yang terkenal :

    الاستواءغير مجهول ، والكيف غير معقول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة (ذم التأويل لابن قدامة المقدسي الحنبلى)

    -         Model tafwidh demikian pada perkembangan berikutnya berubah – Karena salah  memahami – menjadi iman terhadap makna literal, hal yang melahirkan generasi mujassimah. Al-Maqdisi memberikan komentar :

    واماالبر بهارية فإنهم يجهرون بالتشبيه والمكان ويرون الحكم بالخاطر ويكفرون من خالفهم (البدء والتاريخ)

    -         Generasi mujassim dari salafiyyah ini mendorong sebagian tokoh Asy’ariyyah, yang pijakan dasar teologinya menerima madzhab tafwidh dan madzhab ta’wii, mengatakan bahwa untuk hal-hal tertentu ta’wil sangat diperlukan. (fakhruddin ar-Razi, Asas at-Taqdis)

    -         Dengan segala kritik yang dialamatkan kepada generasi ini, Ibn Taimiyyah justru mendukungnya dengan sekuat tenaga, melalui konsepnya bahwa tidak ada majaz dalam kalam Allah, semua yang kalimat dan lafal di dalamnya adalah haqiqah. Kata Ibn Taimiyyah :

    ومذهب السلف : أنهم يصفون الله بما وصف به نفسه وبما وصفه به رسوله من غير تحريف ولاتعطيل ومن غير تكييف ولا تمثيل ونعلم أن ما وصف الله به من ذلك فهو حق ليس فيه لغز ولا أحاجي ، بل معناه يعرف من حيث يعرف مقصود المتكلم بكلامه ، فكما نتيقن أن الله سبحان له ذات حقيقة وله أفعال حقيقة : فكذلك له صفات حقيقة وهو ليس كمثله شيئ لا في ذاته ولا فى صفاته ولا فى أفعاله . مجموع الفتاوي)

    v Protestantisme, dengan melakukan takfir dan tabdi’

    -         Kufr adalah tidak mempercayai sesuatu yang seharusnya diimani. (At-Taftazani, Syarh al-Maqosid). Imam Ar-Razi berpendapat tidak diperbolehkannya mengkafirkan ahl al-qiblah, karena Rasululloh tidak pernah men-taftisy akidah-akidah umat Islam. Bahkan jika seseorang mengucapkan sesuatu yang berkonsekuensi kepada kekufuran akan tetapi dia tidak menyatakannya maka tidak boleh dihukumi kafir. Begitu pula jika pernyataannya disertai dengan ta’wil, walau jelas kebatilannya, dia juga tak boleh dihukumi kafir.

    -         Imam Al-Asy’ari menandaskan, bahwa umat Islam berselisih pendapat dalam banyak hal setelah wafatnya sang Nabi SAW, sebagian di antara mereka menyesatkan yang lain, dan menyatakan tak bertanggungjawab atas yang lain. Maka mereka terbagi ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda, akan tetapi mereka tetap disatukan oleh Islam. (Maqolat al-Islamiyyin)

    -         Riwayat dari Imam Malik bahkan lebih tegas lagi : “jika seseorang memiliki kemungkinan kafir dari Sembilan puluh Sembilan wajah, dan memiliki kemungkinan iman dari satu wajah saja, maka saya akan memenangkan kemungkinan imannya atas dasar husnu az_zonn.


    Asmaul Husna


    KALENDER


    MINI CHAT