PENCARIAN

BERITA TERATAS

KOMENTAR

    POLING
    Bagaimana Menurut Anda Website Ini?

    Sangat Bagus
    Bagus
    Cukup
    Kurang

    Lihat Hasil Poling


    ARSIP PONDOK

      June 2017 (1)

      December 2016 (1)

      November 2016 (2)

      September 2016 (1)

      February 2016 (1)

      March 2014 (1)

      May 2013 (18)

      April 2013 (4)


    AGENDA


    Beranda » Masalah Umum » PEJABAT PUBLIK YANG TIDAK PROFESIONAL

    Senin, 06 Mei 2013 - 21:14:40 WIB
    PEJABAT PUBLIK YANG TIDAK PROFESIONAL
    Diposting oleh : Administrator
    Kategori: Masalah Umum - Dibaca: 526 kali

     

    Deskripsi Masalah :

    Banyak di antara pejabat publik (baik di Legislatif, Eksekutif maupun Yudikatif) yang ternyata tidak menunjukkan kualitas yang semestinya, yakni sebagai pejabat yang professional (Al-Qowiy) dan terpercaya (Al-Amin). Selain kurang menghayati amanat rakyat yang dipikulnya, mereka juga tidak professional (suka mbolos, tidak trampil) dalam menjalankan mandat yang dipikulnya.

    Pertanyaan :

    Apa kata agama tentang orang-orang yang menduduki jabatan publik, tapi tidak menunaikan amanat jabatan sebagaimana mestinya ? bagaimana hukumnya ujrah (gaji/honor dan fasilitas lainnya) yang diterima secara penuh, bahkan lebih dari yang sewajarnya, sementara tugas dan kewajiban tidak dijalankan sebagaimana mestinya ?

    Jawaban :

    Pejabat public yang tidak menunaikan amanat jabatan sebagaimana mestinya sama dengan pengkhianat (al-kha’in).

    ¨ (سورة النساء : ۵۸)

    Artinya :

    Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. (Q.S. al-Nisa : 58)

     

     . (سورة الأنفال : ٢۷)

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Q.S. al-Anfaal : 27)

    Hukumnya ujrah (gaji/honor dan fasilitas lainnya) yang diterima secara penuh, bahkan lebih dari yang sewajarnya, sementara tugas dan kewajiban tidak dijalankan sebagaimana mestinya; adalah haram.

    عَـنْ خَـوْلَةَ الْأَنْصَاريَّةِ رَضِـيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْـتُ النَّبِيَّ صَلَّ اللهُ عَـلَيْهِ وَسَلَّمَ يَـقُوْلُ إِنَّ رِجَالًا يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَـلَهُمْ النَّارُ يَـوْمَ الْـقِـيَامَةِ (أخرجه البخارى).

    Artinya : dari Khoulah al-Anshory R.A., beliau berkata : “Saya telah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda bahwasanya orang yang selalu mencampuri harta Alloh tanpa hak maka baginya adalah siksa neraka di hari kiamat” (H.R. Bukhori)

    الحديث دليل على أنه يحرم على من لم يستحق شياء من مال الله بأن يأخذه وأن ذلك من المعاصى الموجبة للنار "يتخوضون" دلالة على أنه يقبح أن يأخـذوا منه زيادة عما يستحقونه. (هداية الأنام شرح بلوغ المرام : ص ٢٤٤)

    Artinya : Hadits tersebut adalah bukti bahwa haram hukumnya bagi orang yang tidak berhak memiliki harta Alloh kemudian mempergunakannya, karena tindakan tersebut merupakan kemaksiatan yang berakibat masuk neraka. Kalimat “yatakhowwadluna” adalah bukti mengambil barang yang bersifat “lebih” dari yang menjadi haknya. (Kitab Hidayat al-Anam, syarah Bulugh al-Maram, hal. 644)


    Asmaul Husna


    KALENDER


    MINI CHAT